Ada sebuah pertanyaan :

“Adakah ayat Qur’an atau Hadits shahih yang menyatakan bahwa binatang yang hidup di dua alam haram hukum memakannya seperti kepiting, kura-kura, anjing laut dan kodok?”.

.

.

Jawab secara umum :

Perlu kita ingat lagi kaidah penting tentang makanan yaitu asal segala jenis makanan adalah halal kecuali apabila ada dalil yang mengharamkannya. Dan tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yangmengharamkannya.

Semua yang Allah halalkan di dalam Al-Qur`an, maka ia halal. Dan yang diharamkan, maka ia haram. Dan yang didiamkan, maka itu tidak ada hukumnya (boleh). Terimalah dari Allah kemudahan-Nya. (Allah berfirman: [Rabbmu tidak pernah lupa]).

[HR Ad-Daraquthni dalam Sunan-nya (2/137/12), dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâni dalam Silsilah Ash- Shahihah, no. 2256]


Adapun jawaban secara terperinci :

Kepiting – hukumnya halal sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad.

Berkenaan dengan hukum memakan kepiting ini, Ibnu Qudamah menyatakan, semua hewan yang hidup di darat dari binatang air, tidak halal tanpa sembelihan, seperti burung laut, penyu, anjing laut, kecuali yang tidak berdarah (ma lâ damma lahu). Maka, kepiting ini dihalalkan tanpa disembelih. Imam Ahmad mengatakan, kepiting tidak mengapa (halal). Beliau ditanya: “Apakah disembelih?” Beliau menjawab,”Tidak, hal ini, karena maksud penyembelihan itu ialah untuk mengeluarkan darah dan memperbagus daging, yaitu dengan menghilangkan darah tersebut. Sehingga yang tidak ada darahnya, maka tidak membutuhkan disembelih.” [Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm]

Hal ini juga didukung oleh kaidah, bahwa hukum asal sesuatu itu halal dan tidak diharamkan, kecuali yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Adapun yang didiamkan, maka itu diperbolehkan. [Kaidah ini disampaikan Imam Asy-Syaukani dalam Durar Al-Bahiyah]

Kura-kura dan Penyu – juga halal sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. [Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84]

Anjing laut – juga halal sebagaimana pendapat Imam Malik, Syafi’i, Laits, Sya’bi dan Al-Auza’i [Lihat Al-Mughni 13/346]

Katak/kodok – hukumnya haram secara mutlak menurut pendapat yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh.

“Artinya : Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuhnya” [Hadits Riwayat Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani]

Wallahu A’lam

.

.

Sumber:

1. Majalah Al Furqon, Edisi : 12 Tahun II/Rojab 1424. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat : Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim

2. http://bukhari.or.id dalam Bagaimana Hukum Kepiting?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s