Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.

.

.

Pada periode awal Islam, kaum mukminat telah mencapai puncaknya dalam hal kesuciaan, pemeliharaan diri, rasa malu dan sikap hati-hati, karena keberkahan iman mereka kepada Allah dan RasulNya dan mengikuti petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, dimana pada masa itu mereka memakai pakaian yang menutupi aurat dan tidak mempertontonkan lekuk-lekuk tubuh saat berkumpul baik di hadapan kaum mukminat lainnya maupun di hadapan mahramnya, sehingga kebiasaan yang lurus (baik) meliputi perilaku dan kehidupan mereka selama beberapa abad sehingga tiba suatu abad; dimana banyak sekali perbuatan dan perilaku yang mencemari kesucian dan keluhuran akhlak kaum mukminat atau kaum muslimat berupa penyimpangan dalam hal berpakaian dan berperilaku karena sebab yang beraneka ragam yang tidak akan mungkin cukup untuk membahasnya di dalam pembahasan ini.

Melihat banyaknya para pemudi yang datang ke Lajnah ad-Da’imah untuk melakukan kajian ilmiah serta meminta fatwa mengenai batasan kebolehan pandangan seorang wanita terhadap wanita lainnya serta apa yang harus dilakukannya dalam hal berpakaian, Lajnah ingin menjelaskan kepada kaum muslimat secara umum bahwa hal yang wajib dilakukan seorang wanita muslimah adalah menjaga rasa malu sebagaimana telah ditegaskan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa rasa malu itu adalah bagian atau cabang dari iman, dan terkait dengan pemeliharaan rasa malu ini, maka hal yang diperintahkan syari’at serta etika Islam, bahwa seorang wanita muslimah harus menutup auratnya, menjaga kesopanan dan berakhlak dengan akhlak yang terhindar dari fitnah dan hal-hal yang syubhat (meragukan).

Al-Qur’an menjelaskan bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh memperlihatkan bagian anggota tubuhnya kepada wanita yang lainnya selain bagian anggota tubuh yang boleh diperlihatkan kepada mahramnya, yaitu bagian anggota tubuh yang biasa dibuka ketika berada di rumah dan ketika sedang bekerja, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya , kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.” (An-Nur: 31)

Jika masalah tersebut sudah dinashkan oleh al-Qur’an dan ditunjukkan oleh as-Sunnah, niscaya perbuatan itulah yang dilakukan oleh para isteri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para isteri sahabatnya dan para wanita muslimah yang mengikuti perilaku mereka dengan baik hingga masa kita dewasa ini. Kemudian bagian anggota tubuh yang biasa dibuka di hadapan orang-orang yang disebutkan dalam ayat al-Qur’an di atas hanyalah bagian anggota tubuh yang nampak pada umumnya ketika sedang berada di rumah dan dalam keadaan penting dan menghindari diri dari perbuatan selain itu, seperti menampakkan kepala (tidak menutupnya), dua tangan, leher dan dua kaki. Adapun membukanya dengan bebas, maka tidak ada satu pun dalil yang membolehkannya baik yang bersumber dari al-Qur’an atau dari as-Sunnah. Juga hal itu termasuk jalan yang menghantarkan kepada fitnah bagi wanita yang memakainya, dan fitnah yang disebabkan oleh perbuatan itu telah menimpa puteri-puteri mereka dengan sesama jenisnya. Juga hal itu menjadi teladan buruk bagi wanita muslimah lainnya. Juga hal itupun termasuk perbuatan menyerupai kaum wanita yang kafir dan durhaka yang seronok dalam hal berpakaian, sebagaimana hal itu ditegaskan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud). (Abu Daud, bab Pakaian (4031); Ahmad (5093, 5094 dan 5634))

Kemudian di dalam kitab shahih Muslim yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dua buah pakaian berwarna kuning, seraya bersabda,

إِنَّ هذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

“Sesungguhnya pakaian ini adalah pakaian orang-orang kafir, karena itu janganlah memakainya.”( Muslim, bab Pakaian (2077))

Juga dalam kitab Shahih Muslim dijelaskan bahwa, “Dua golongan manusia termasuk ahli neraka dan aku belum pernah melihat sebelumnya, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pukulkan kepada orang-orang serta wanita yang memakai pakaian tapi telanjang yang berjalan lenggak-lenggok serta bergoyang-goyang, kepalanya seperti punuk seekor unta yang besar. Niscaya mereka tidak akan masuk surga serta tidak akan mencium bau harumnya. Sesungguhnya bau harum surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”( Muslim, bab Pakaian dan bab surga serta kenikmatannya. (2128))

Sedangkan yang dimaksud dengan memakai pakaian tapi telanjang dalam hadits di atas, yakni seorang wanita muslimah memakai pakaian yang tidak menutupi aurat, sehingga ia seakan-akan telanjang, dan pada hakikatnya ia telanjang, seperti memakai pakaian tipis yang memperlihatkan kulitnya atau pakaian yang ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya dan pakaian pendek (mini) yang tidak menutupi sebagian anggota tubuhnya.

Adapun fatwa dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah mengatakan,

“Sedangkan perempuan muslimah di hadapan sesama perempuan muslimah maka perempuan adalah aurat kecuali bagian tubuhnya yang biasa diberi perhiasan. Yaitu kepala, telinga, leher, bagian atas dada yang biasa diberi kalung, hasta dengan sedikit lengan atas yang biasa diberi hiasan lengan, telapak kaki dan bagian bawah betis yang biasa diberi gelang kaki.

Sedangkan bagian tubuh yang lain adalah aurat, tidak boleh bagi seorang muslimah demikian pula mahram dari seorang perempuan untuk melihat bagian-bagian tubuh di atas dan tidak boleh bagi perempuan tersebut untuk menampakkannya.”

[Talkhish Ahkam Janaiz hal 30, sebagaimana dalam Masail Nisaiyyah Mukhtaroh karya Ummu Ayyub Nurah bin Ahsan Ghawi hal 143].

 

Hal yang patut diperhatikan oleh kaum muslimat adalah mencontoh perbuatan yang oleh Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam), para isteri para sahabat serta kaum wanita muslimat dari umat ini (umat Islam) yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik. Hendaklah mereka menutup aurat serta memelihara kesopanan; sehingga terhindar dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dan memelihara kesucian diri dari desakan hawa nafsu yang akan menjerumuskan ke dalam lubang kemaksiatan dan kejahatan.

Juga diwajibkan kepada kaum muslimat untuk berhati-hati terhadap sesuatu yang telah diharamkan Allah dan RasulNya dalam hal berpakaian, jangan sampai menyerupai pakaian kaum wanita yang kafir serta durhaka. Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta berharaplah akan balasan pahala dari Allah dan merasa takut akan siksaanNya.

Juga diwajibkan kepada seorang muslim untuk bertakwa kepada Allah dalam menjaga orang-orang yang berada di bawah perlindungannya, misalnya, isteri, bahwa tidak semestinya ia membiarkannya memakai pakaian yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya seperti pakaian yang transparan, pakaian yang mini serta pakaian yang menimbulkan fitnah. Hendaknya ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang pemimpin yang kelak pada hari kiamat akan diminta pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.

Selayaknya kita memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Dia memperbaiki perilaku kaum muslimin dan membimbing kita ke jalan yang benar. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Mahadekat dan Maha Mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepadaNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya.



SUMBER:

Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah Wal Ifta’, no. 21302 25 Muharram 1421 H. Lihat, FATWA-FATWA TERKINI, PENERBIT DARUL HAQ, JAKARTA

Dan tambahan fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani Rahimahullah yang diambil dari http://ustadzaris.com/aurat-di-depan-sesama-wanita

2 responses »

  1. re_here mengatakan:

    assalamu ‘alaikum
    tanya: kalau istri kepada suaminya bagaimana? adakah batasan2nya juga? begitu juga sebaliknya? mohon penjelasan

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh

      Untuk suami-istri tidak ada batasan aurat, boleh saling melihat aurat masing-masing. Ada banyak hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya:

      Aisyah mengatakan: “Aku pernah mandi bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dari satu tempat air, tangan kami saling berebut, dan beliau mendahuluiku, hingga aku mengatakan: “Biarkan itu untukku, biarkan itu untukku!”, ketika itu kami berdua sedang junub. (HR. Muslim: 321)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s