Saya sangat bersyukur sekali karena dari kecil, sejak kuberada di Taman Kanak-Kanak, saya sudah diajarkan tentang berjilbab. SD pun demikian, ya… walau kata orang-orang jilbab sekolahan. Saya merasa senang dan bangga berjilbab, teman-temanku yang lain pun beranggapan sama sepertiku. Karena jilbab itu menurut kami merupakan suatu hal yang expensive. (Yah.. namanya juga anak-anak).


perjalanan


Masa SMP pun tiba, akhirnya saya bersekolah di sekolah swasta yang sarat dengan nilai Islami. Hanya saja, di sekolahku yang sekarang tidak ada kewajiban untuk berjilbab. Orangtuaku tidak memaksaku untuk berjilbab, tapi tidak menganjurkan juga untuk tidak berjilbab, mereka menyerahkan semua keputusan kepadaku. Keputusan yang kuambil yaitu tetap berjilbab, karena saya tetap menjunjung tinggi bahwa berjilbab itu merupakan suatu hal yang expensive.


Masa SMP pun tiba, hari pertama masuk, saya merasa malu dan kaku untuk menyapa siapa pun, alasannya, karena di dalam kelas nan sunyi itu hanya saya saja wanita yang berjilbab. Saya sempat mengadu kepada Allah dalam hati, “Ya Allah ini sekolah Islam tapi kenapa hanya saya saja yang berjilbab? Apakah jalan yang kutempuh ini sudah benar ya Allah?”. Jawaban atas pertanyaaku itu tak kunjung muncul, tapi saya masih tetap bangga dengan berjilbab, toh teman-teman SDku, walau berbeda SMP, tentunya mereka masih menjunjung tinggi tentang keutamaan nilai berjilbab.


Beberapa bulan waktu berjalan, saya mendapatkan kabar bahwa kebanyakan teman-teman SDku ketika memasuki suasana baru di lingkungan SMP, ternyata… rata-rata melepaskan jilbabnya, adapun teman-teman yang masih berjilbab, itu karena mereka bersekolah di sekolah swasta yang mewajibkan berjilbab di lingkungan sekolah. Saya pun kembali mengadu kepada Allah. “Ya Allah, apa yang terjadi? Sebenarnya apa fungsi jilbab ini?” Jawaban itu masih tak kunjung datang. Hari demi hari tetap kujalani, tapi sekarang perasaan malu dan minder itu pun muncul kembali dan mengguncang diriku. Tapi saya tetap berpikir positif bahwa dengan berjilbab inilah saya lebih menjaga diri dan lebih menjaga pergaulan saya. Toh dengan berjilbab saya pun bisa memiliki banyak teman, bahkan sahabat-sahabat yang siap menerima diriku apa adanya.


Setelah setahunan lebih menjalani masa SMP, semangat berjilbabku pun semakin berkobar ketika salah seorang sahabatku mengatakan bahwa dia siap untuk berjilbab saat ini. Hatiku sangat senang sekali, akhirnya saya pun tidak sendirian lagi berjilbab di kelas nan penuh dengan keributan itu (pas kelas dua, kelas ga sepi lagi, malah tiap hari ribut melulu).


Semakin kuat niatku tuk berjilbab, setelah dua tahun masa SMPku, saya pun mengambil langkah yang lebih dalam berjilbab, kuputuskan untuk tidak hanya jilbab sekolahan, saya pun mulai berjilbab ketika pergi kemana pun. Hingga sampai waktu kelulusan tiba, saya tetap enjoy dengan jilbab ini, apalagi sahabat saya pun berjilbab, buat apa malu?!


Masa SMA tiba pula, yang kata orang-orang masa yang paling terindah (Wah… masa sih? Kita buktikan saja). Yang kurasakan saat itu, sepertinya ujian berjilbab semakin besar karena kini kubersekolah di sekolah negeri, yang tentunya sangat dekat dengan pergaulan bebas.


Saya tetap bangga berjilbab, apalagi ketika tahu bahwa kedua sahabat SMPku yang lainnya mulai berjilbab pula. Sungguh senang diriku ini dan bangga sekali karena dengan diriku yang banyak kekurangan ini, ternyata bisa pula mempengaruhi sahabat-sahabatku untuk berjilbab.


Tapi hati kembali sedih lagi, diluluhlantahkan dengan kabar yang kudapatkan dari salah seorang teman SMPku, yang katanya, sahabat SMPku yang berjuang bersamaku mengenakan jilbab di masa SMP dulu, sekarang, ketika memasuki dunia SMA, ketika kami dipisahkan oleh waktu karena berbeda SMA, kini dia melepaskan jilbabnya. Saya pun kembali mengadu. “Ya Allah, ada apa dengan sahabatku? Apa fungsi jilbab menurut dia? Dan apa sebenarnya fungsi jilbab ini ya Allah?”. Sedih rasanya… tapi hati ini tetap terobati ketika mengingat sahabatku yang lain sudah berjilbab.


Walau kata orang-orang dunia SMA itu sangat sarat dengan pergaulan bebas, ternyata tidak juga, malah di lingkungan SMA inilah kumengenal Islam sesungguhnya. Ada seorang kakak yang membuatku kagum. Dengar-dengar, dari kata orang dan dari curhat dia secara pribadi padaku, ternyata dia dulunya tergolong anak gaul dan sangat dekat dengan pergaulan bebas. Tapi kini, dia sungguh alim nan cantik, dengan jilbabnya yang rapi, lebar serta menutup dada.


Hari demi hari kujalani dengan penuh ceriah dan semangat, dan tentunya bangga dengan jilbab yang kukenakan tersebut. Apalagi kutak segan-segan lagi tuk melebarkan jilbabku hingga benar-benar menutup dada, dan tentunya dengan baju seragam nan longgar yang tidak membentuk lekuk tubuh. Saya selalu menanti kedatangan hari jum’at, karena tiap hari itulah kakak itu akan menyapaku dengan senyumnya yang cantik dan mengajakku untuk pergi tarbiyah. Apalagi kali ini, kakak tersebut menghampiriku dengan penampilan yang berbeda, sungguh lebih alim dan tetap menampakkan kecantikannya dengan jilbabnya yang sangat lebar. Wah, saya sungguh kagum dengannya. Dalam hatiku selalu bertanya-tanya, “Kapan ya saya siap berjilbab seperti dirinya?”


Setelah setahunan lebih menjalani aktivitas ini dengan ikhlas dan penuh keceriaan. Hati kembali luluh lagi, bahkan sangat luluh, semangatku untuk ikut tarbiyah seakan pupus sudah. Ini karena ku mendengar gosip-gosip jelek seputar kakak tersebut. Ada yang bilang dia melepaskan jilbabnya di luar sekolah, ada yang bilang dia kembali lagi kepergaulan lamanya, ada yang bilang dia pacaran lagi, bahkan ada yang sampai bilang dia hamil. Naudzubillah min dzalik. Apakah gosip ini benar? Saat itu saya belum menemukan jawabannya, bahkan kakak-kakak yang lain serta teman-temanku di rohis tidak ada yang berani berkomentar tentang hal tersebut serta tidak boleh berhubungan lagi dengan kakak tersebut. Hatiku bertanya-tanya lagi.”Kok gitu sih? Apa gosip itu memang benar? Kenapa musti dijauhi?”.


Semangatku pun semakin luluh ketika ada salah seorang kakak yang tahu bahwa saya, selain mengikuti tarbiyah, saya pun mengikuti ta’lim salaf. Ketika tahu, dia memperingatkanku dan melarangku untuk mengikuti ta’lim tersebut . Hatiku ikut bertanya-tanya lagi, “Ada apa ini? Kita mau menuntut ilmu kok dilarang?”


Pupus sudah harapanku untuk mau mengenal Islam lagi…


Toh banyak yang dulunya jadi baik tapi malah kembali menjadi buruk jua…


Kini kumemasuki dunia kampus, yang jauh dari keluarga dan teman-teman, yang harus beradaptasi menjalani kehidupan yang baru sendirian.


Entah mengapa diriku kembali bertanya-tanya tentang jilbab, “Sebenarnya jilbab ini apa?” Tapi sampai sekarang, nilai jilbab yang mengandung arti expensive itu masih tersirat di benakku, dan itulah yang menguatkanku untuk tetap berjilbab, bahkan ketika memasuki dunia perkuliahan.


Kesendirian yang kujalani ini, sungguh membuatku hampa, membuatku teringat dengan semua nikmat-Nya yang telah diberikan. Rasa syukur selalu menyapaku karena bisa duduk di bangku perkuliahan, bahkan di salah satu perguruan tinggi yang terkenal. Kini semangatku untuk mengenal Islam lagi muncul kembali, kali ini datang dari hati nuraniku sendiri, bukan karena orang lain, bukan karena bujukan orang lain.


Yang saya harapkan adalah dengan pencarianku ini saya bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku, termasuk seputar masalah jilbab.


“Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” [HR.Muslim]


Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”


Subhanallah, sungguh nikmat mendengar hadits tersebut…. Dan sampai sekarang kuyakini kebenarannya….


Setelah 2 tahunan menjalani dunia perkuliahan dan menjalani pencarianku untuk mengenal Islam lebih jauh serta meyakini kebenaran dakwah yang haq ini yaitu dakwah Rasulullah dan para sahabat, akhirnya tiba sudah saatnya memutuskan untuk berjilbab secara syar’i. Kali ini kuberjilbab bukan karena siapa-siapa, bukan dorongan dari siapapun, dan bukan paksaan dari siapanpun atau untuk mencari popularitas. Tapi keinginan ini muncul dari lubuk hatiku yang terdalam. Setelah kutemukan makna jilbab itu yang sesungguhnya…


Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al Ahzab: 59]


Sungguh benarlah perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul tiga landasan utama bahwa “Sesungguhnya wajib atas kita semua untuk mempelajari empat perkara: pertama Al-Ilmu, kedua mengamalkannya, ketiga mendakwahkannya, keempat bersabar atas gangguan yang dialami karenanya.”


Oleh karena itulah, ketika kita sudah tahu ilmunya, bahwa menutup aurat itu merupakan perkara yang wajib, maka bukan hal yag sulit lagi untuk menegakkan kewajiban kita sebagai muslimah dalam perkara yang satu ini.


Semoga curhat yang sedikit ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terutama buat akhowat yang ditimpa kegunjangan dalam menunaikan salah satu kewajiban kita yaitu menutup aurat.

10 responses »

  1. Ray Sastri mengatakan:

    ukhti… uhibbuki fillah

    Suka

  2. re_here mengatakan:

    “Dari Anas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memiliki 3 hal berikut, mereka akan merasakan manisnya iman: 1. seseorang yang mencintai Alah dan rasulNya melebihi suatu apapun, 2. yg mencintai seseorang dan mencintainya hanya karena Allah, 3. yang membenci untuk kembali kepada kesesatan sebagaimana dia bnci untuk dilemparkan ke neraka.” (hadits shahih dalam shahih bukhari, hadits nomor 15).

    Mohon diralat jika ada redaksi yg keliru.

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Dari Anas radiallahu’anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia mendapat manisnya iman yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”
      [HR. Bukhari, Bab Iman, hadits no.13]

      Syukran ya Adekku sayang…

      Uhibbuki fillah.

      [Kak Ani tersenyum]

      Suka

  3. Iffah mengatakan:

    Bgs bgt curhatx k’, mengugah hati.

    Suka

  4. Haryati mengatakan:

    subhanaLLoh …..bgus s x..trus semangat berjilbab…:-)

    Suka

  5. reka kajaksana mengatakan:

    masyaAllah, sukron kashiron for you announcered abaout veil.
    now i know why we should use a veil wherever, whenever we are.
    thank you very much. sukron kashiron.
    :)

    Suka

  6. Assalamualaikum, Terima kasih atas tulisan ini yang sangat bermanfaat. Memakai jilbab memang harus pilih daleman yang sehat juga, seperti di Aimee Inners.

    Terima kasih kaka admin, sudah memberi ijin comment saya :) Semoga admin sehat dan sukses selalu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s