Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh

Ehm… teman-temanku sekalian yang saya sayangi dan cintai, mengenai pembahasan kali ini mungkin agak serius, eh sangat serius kali ya. [“Ga masalah khan?”]. Itung-itung nambah ilmu buat saya secara pribadi dan untuk siapa saja yang berkenan membacanya.

Silahkan menyimak…



fjpho5-1



Dakwah apapun jika tidak tegak di atas landasan kaidah-kaidah dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hanyalah akan menjadi fitnah (adzab) yang menyerupai awan (yang membawa adzab) kaum ‘Ad.

“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. Mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ Bukan! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, yaitu angin yang mengandung adzab yang pedih.” [Al-Ahqaf: 24]

Yaitu dakwah yang tidak menjadikan ilmu hadits sebagai asas dan tidak bersandar kepada pemahaman para salafus shalih, generasi pertama dan terbaik dari ummat Islam ini, sehingga menjadi fitnah (musibah) bagi ummat dan akan menjadi penghalang dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya akan mendapat banyak petunjuk ataukah orang yang berjalan tegar di atas jalan yang lurus?” [Al-Mulk : 22]

Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah yang tegak di atas Al-Qur’an dan Hadits menurut pemahaman para salafus shalih.


Siapa salafus shalih?

Mereka adalah para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/ masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in). [Muttafaq ‘alaih. HR. Al-Bukhary (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (211)) dari Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu]

Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara bid’ah (perkara yang baru dalam agama), akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

.

Tentunya ada yang bertanya, kenapa ga Ahlus Sunnah wal Jama’ah aja sih?

Teman, di zaman sekarang ini, telah banyak orang yang dengan gampangnya dan sangat mudahnya menggunakan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mendengungkan diri mereka sebagai Ahlus Sunnah padahal pada kenyataannya, mereka menyimpang! Bahkan menyelisihi sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam!

Seperti kata penyair…

Banyak orang yang mengaku punya hubungan dengan Laila padahal Laila tidak pernah mengakuinya”.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafy, karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu‘anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. [Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ (I/63-64) karya Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili, Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 21) karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah]

Jadi, kenapa kita harus malu untuk menisbatkan diri kita kepada salaf?

.

Mengapa harus berdasarkan pemahaman Salafus Shalih?

Karena di zaman ini, telah begitu banyaknya orang-orang yang menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan pemahaman dan keinginan mereka. Dan telah banyak pula hadits-hadits dha’if (lemah) dan maudhu (palsu) yang beredar ala pemikiran orang-orang yang dengan lancangnya menisbatkan perkataan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mencontohkannya.

Yah… Mungkin ada yang berkata, kami juga Ahlus Sunnah, bersandar kepada Al Qur’an dan hadits. Tapi berdasarkan pemahaman siapa teman? Salafus Shalih yang merupakan generasi terbaik dari ummat ini? Atau pemahaman ala pemikiran orang-orang?

Coba pikir dan renungkan kembali teman…

Satu ayat Al Qur’an saja, salah penafsirannya, maka akan salah dalam pelaksanaannya! Sama halnya dengan mengamalkan satu hadits dhoif (lemah) atau maudhu (palsu), amalannya tidak ada gunanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka, silahkan pilih teman, apakah kalian orang-orang yang ikhlas dan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pengikut hawa nafsu?

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perkara-perkara yang baru dalam agama.


Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikuti) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti Atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaa-ifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghurabaa’ (orang asing).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah suatu golongan atau kelompok yang mempunyai tujuan atau visi-misi untuk golongan mereka. Walau mereka berdalih kami lakukan ini untuk Islam dan demi Islam. Tapi, apakah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak lain tokohnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang menjadi tauladan kita. Jika memiliki tokoh selain Rasulullah, yang sering kita dengung-dengungkan, sesungguhnya tanpa kita sadari, kita telah termasuk orang-orang yang taqlid (fanatik terhadap suatu golongan), dan ini termasuk jalannya orang-orang yang menyimpang dan menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Afwan jiddan bila ada perkataan yang kurang berkenan di hati. Segala yang benar datangnya dari Allah, dan segala yang salah datangnya dari diri saya sendiri.

9 responses »

  1. Ummu Dzulqarnain mengatakan:

    Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
    Bagi teman-teman yang ingin menyalurkan pendapatnya, ayo ayo silahkan teman…. Tinggalkan komentar ya….[Ini rayuan ato paksaan yakz, hihihi].

    Suka

  2. Desie Dwi mengatakan:

    Wa’alaykumussalam warohamatullohi wabarokatuh,
    Yup, setuju… kenapa kita harus malu untuk menisbatkan diri kita kpd salaf?
    Selalu berharap semoga dgn akidah yg sdh lurus tadi, kita bs menghiasinya dengan akhlak yg baik.
    Ilmu yang telah didapatkan semoga tidak hanya sekedar tahu tanpa diamalkan. Aamiin… (doa dan harapan serta pengingat buat diri saya khususnya) [Mbak Desy tersenyum]
    Baarakallahu fiyk

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Wah… akhirnya ada yang berkomentar juga yach….
      Ya, setuju dech pokoknya…. [Ani tersenyum lebar]
      Wa fiyk barakallahu

      Suka

  3. hik_mah mengatakan:

    “Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah suatu golongan atau kelompok yang mempunyai tujuan atau visi-misi untuk golongan mereka. Walau mereka berdalih kami lakukan ini untuk Islam dan demi Islam”

    betul betul betul..setujuuuuu!!
    semoga istiqamah diatas manhaj yag haq ini ya ukh,..barakallahu fiek
    *senyum senyum senyum*

    Suka

  4. Ismi Humairo mengatakan:

    assalamualaikum…
    salam kenal umm…^^,

    Suka

  5. mencarimaknahidup mengatakan:

    assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh
    saya senang dan bersyukur bisa mengenal manhaj salaf di kampus UI ^^
    saya sempet ngobrol dengan beberapa anak yang ngaji salaf juga di surabaya. Mereka bilang lebih suka menyebut dirinya ahlussunnah wal jamaah karena katanya ada pula beberapa jamaah yang menisbatkan diri sebagai salafy tapi memfitnah yang lain dan sebagainya. Lalu ia pun menambahkan, apakah pantas saya menisbatkan diri sebagai salafy sedangkan kelakuan saya masih jauh dari perilaku salafussholeh?
    bagaimana itu ummu?

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh
      Ehm.. kenapa mesti malu untuk menisbatkan diri kita kepada salaf? Kenapa mesti malu mengatakan diri kita salafi jika ada yang mempertanyakannya? Toh sudah jelas bahwa menisbatkan diri kepada salaf merupakan perkara yang wajib.
      Oleh karena itu, ketika kita sudah tahu ilmunya maka kita amalkan say. Sehingga orang-orang tidak menganggap hanya nama doank, tapi kita buktikan dengan amal perbuatan kita.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s