canton-ped-dentistBagi teman-teman yang  memiliki adik yang masih kecil atau yang sudah memiliki anak, tentunya harus peduli dengan kesehatan si kecil, khususnya dalam hal ini kesehatan gigi mereka. Banyak di antara kita terkadang menyepelehkannya dan menganggapnya bukan hal yang penting serta tidak patut untuk diperhatikan setiap saat. Padahal, memperkenalkan anak kecil tentang kesehatan gigi sejak dini akan sangat membantu untuk membentuk pola perilaku anak yang awalnya tidak peduli menjadi  peduli untuk menjaga dan memelihara kesehatan giginya. Hingga mereka dewasa nanti sampai mereka  menjadi kakek-nenek pun, jelas tetap akan peduli.

Motivasi dari orangtua dan orang di sekitarnya sangat membantu si kecil untuk memperbaiki perilaku mereka, sehingga si kecil menjadi mudah untuk diajak bekerjasama ketika akan dilakukan perawatan gigi di dokter gigi. Jadi jangan pernah untuk menakut-nakuti anak ya, misalnya awas, entar dicabut loh giginya, entar disuntik loh, entar dimarahin loh sama bu dokter, dan berbagai macam pernyataan yang kadangkala tidak disengaja kita paparkan ke mereka. Mungkin maksud kita baik, tapi sangat berdampak buruk kepada si kecil, hanya akan membuat si kecil mennjadi takut untuk ke dokter gigi.

filling

Adapun pembagian perilaku anak dalam perawatan gigi, sebagai berikut:

1. Anak yang bisa diajak bekerjasama (Tipe Kooperatif)

Kebanyakan anak merupakan pasien yang kooperatif, dan hanya memiliki rasa takut yang minimal. Anak seperti ini, mau diajak bekerjasama, sehingga sangat membantu dokter gigi untuk bekerja secaraefektif dan efisien.

2. Tidak mampu menjadi kooperatif

  • Anak yang masih sangat muda usianya. Anak usia muda, bukannya tidak mampu diajak kerjasama, tapi belum mampu. Pada kelompok anak ini, komunikasi masih belum bisa dilakukan karena anak belum mempunyai pemahaman. (anak di bawah usia 3 tahun)
  • Anak cacat mental. Anak ini tidak mempunyai kemampuan untuk kooperatif karena kemampuannya terbatas.

3. Berpotensi untuk diajak bekerjasama (Berpotensi untuk kooperatif)

Pada kelompok anak ini, pada awal perawatan, biasanya anak tidak mau diajak kerjasama.  Tapi dengan teknik pendekatan yang tepat, akhirnya si kecil dapat diajak bekerjasama.


Hayo… termasuk dalam kategori yang manakah si kecil?

Cobalah, mulai sekarang, kita tanamkan perilaku positif  kepada si kecil ketika berkunjung ke dokter gigi dan dalam tindakan keseharian dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi. Jangan biarkan si kecil menjadi kaku terhadap kesehatan mereka sendiri khususnya kesehatan gigi.

4 responses »

  1. Assalamu’alaikum
    ukhti, anti dokter gigi ya..
    sama kaya ibu mertua ana dong..
    artikel yang bagus ukh..
    gimana tips agar anak yang masih batita mau gosok gigi ukh?
    dan mulai usia berapa kita mengajarkan gosok gigi?
    jazakillahu khoiron ya..

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Wa’alaykumussalam warahmatullah ummu Shofiyyah. Iya, Insya Allah bentar lagi jadi dokter gigi. Doain ya ummu. Jazakillahu khairan. Batita biasanya belum mampu menerima penjelasan. Kita perlu melakukan pendekatan khusus dengan menggunakan bahasa batita (hehe, bahasa ala anak-anak pokoke) serta dengan nada yang halus, misalnya fulanah sayang, giginya dibersihin ya, biar ga ada kuman yang nempel, kalo ada kuman yang nempel entar giginya jadi item-item loh, khan malu sama temannya nanti. Lakukan rutin 2 kali sehari, tetap dibujuk ya ummu, lama-lama juga dah biasa kok anaknya. Kita mulai mengajarkan anak cara sikat gigi sejak gigi susunya mulai tumbuh.

      Suka

  2. Rika Hermansyah mengatakan:

    nice post, ukh…^^
    sekedar tambahan, ya:

    * Mulailah dari diri kita sendiri. Coz anak menjadikan orgtuanya atau lingkungannya sbg panutan…^^

    * Ajak si kecil melihat kakak, ayah, atau ibunya menyikat gigi.

    * Selagi membangun kebiasaan ini, sampaikan pengertian kepada anak mengenai manfaat menyikat gigi. Paling konkret adalah gigi jadi bersih.

    * Jangan cepat menyerah saat si batita terlihat tak menangkap apa yang kita sampaikan. Terlebih karena si batita awal masih sulit diberi pengertian. Penjelasan mengenai kerusakan gigi semisal gigi bolong, ada kuman atau jadi bengkak, buat anak adalah sesuatu yang abstrak dan terlalu jauh untuk dipahaminya.

    Jika hal-hal “kecil” seperti ini dilakukan secara konsisten, anak akan meniru apa yang dicontohkan. Apalagi jika contoh itu dilihat anak sebagai sesuatu yang menyenangkan, asyik, lucu, dan sama sekali tidak membosankan.

    Apa bentuk pastinya? Tentu saja orang tua sendiri yang tahu apa yang dapat membuat anaknya tertarik. Yang jelas, menyikat gigi tidak perlu dilakukan secara formal di kamar mandi.

    Menyikat gigi anak batita yang sedang aktif bergerak ke sana ke mari memang sulit. Cobalah :

    * Mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan sikat gigi bisa dimulai saat gigi atas dan bawahnya masing-masing berjumlah empat atau enam. Masa uji cobanya tidak bisa singkat, bisa 2-3 minggu.

    * Di depan sebuah cermin, pangkulah anak dengan posisi membelakangi kita. Dengan begitu anak akan melihat sendiri giginya yang semula kuning setelah disikat jadi lebih putih.

    * Sekalipun anak baru punya 4 gigi di bagian depan atas dan bawah, teknik penyikatannya tetap sama seperti teknik saat menyikat gigi orang dewasa, yaitu:

    – Lakukan secara perlahan dari bagian gusi ke arah permukaan gigi (vertikal).

    – Untuk bagian permukaan kunyah, baik gigi atas maupun bawah, teknik menyikatnya adalah menarik sikat ke arah luar mulut (horisontal).

    – Menyikat gigi tidak boleh dua arah atau bolak balik. Jadi, cukup searah saja. Kalau teknik ini dilakukan dengan benar, hasilnya bisa lebih maksimal sementara kesehatan gusi pun tetap terjaga.

    * Pilihlah sikat gigi khusus untuk anak. Atau, jika gigi anak kurang dari 4 gunakan kasa steril yang telah dibasahi air matang. Dengan melilitkannya di jari telunjuk, “sikat gigi” ini terbukti efektif karena bisa menjangkau tempat-tempat sisa makanan yang susah dibersihkan. Bila anak sudah bisa menerima sikat gigi, teruskan kebiasaan membersihkan giginya dengan sikat gigi.

    * Pembersihan serupa juga harus dilakukan pada langit-langit, dinding mulut, permukaan lidah dan gusi.

    * Untuk tahap pengenalan lebih baik tidak memakai pasta gigi. “Pasta gigi bisa-bisa dirasa aneh oleh anak. Ia bisa terkejut atau malah trauma. Jadi, cukup gunakan air hangat matang saja.”

    * Setelah berjalan beberapa minggu dan anak sudah tidak melakukan penolakan lagi, tak ada salahnya memperkenalkan sedikit demi sedikit pasta gigi khusus anak. Toh ada beragam rasa yang dia sukai.

    * Oleh karena anak belum bisa berkumur, jangan lupa menyediakan lap basah atau tisu. Tentu saja hal ini tidak boleh dilakukan terus-menerus karena anak tetaplah harus diajarkan cara berkumur sekaligus membuang kumurannya itu.

    (Tips dr drg spesialis anak)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s