New Image

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami.

Sungguh beruntung bagi teman-teman sekalian yang telah menikah atau yang akan menikah sebentar lagi, karena…

Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam: ‘ Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.’” [HR.ath-Thabrani]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam memerintahkan kami untuk menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras.”

Dalam Islam, kita mengenal istilah mahar, yaitu hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya.

“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” [ QS. An-Nisa : 4 ]

Tapi, lain halnya dengan uang naik atau istilah kerennya nih uang pa’naik (Apaan tuh?). Uang naik beda loh sama mahar. Istilah uang naik ini tentunya tidak terasa asing di kuping masyarakat pulau Sulawesi, terkhususkan di kota Makassar dan sekitarnya.

Uang naik adalah uang seserahan yang diberikan oleh keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita sebagai tanda keikhlasan untuk menyerahkan putrinya yang tercinta kepada calon suaminya. Bahkan, ketika proses pembicaraan tersebut berlangsung, terkadang dilakukan penawaran, hoho, kayak lagi transaksi jual-beli aja…. (ooo, maaf bagi teman-teman yang kurang berkenan). Tapi pada kenyataannya emang seperti itu. Duh kasihan, kok anak dijual sih?

Berjam demi jam perdebatan terus berlangsung, pada beberapa kasus akhirnya dapat menemukan harga yang pas, tapi beberapa kasus yang lainnya tidak menemukan titik temu, hingga harus pulang dengan perasaan yang campur baur, sedih, tidak puas, marah dan bla bla bla, beragam variasi emosional terpaparkan.

Apalagi jika si wanita adalah seorang yang berpendidikan dengan gelar yang sangat terhormat di depan dan belakang namanya. Wah, harganya bakal sangat mahal, bisa beli satu rumah tipe 24 kali ye…(hehe, maaf).

Sungguh sedih rasanya jika lamaran tersebut batal hanya karena uang naik….. hikshiks. Padahal, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” [Hr. Ahmad, Ibnu Hibban dal al-Hakim]

Dari sinilah, banyak To toa (orang-orang yang dituakan) yang berpesan agar anak perempuan dari keturunan mereka menikah dengan orang yang sedaerah dengannya. Ada yang mengartikan sedaerah itu maksudnya sepulau, ada yang mengartikannya se-provinsi, ada yang sesuku bahkan ada yang lebih spesifik lagi yaitu satu kabupaten. Dan, sangat jelas, doktrin ini masih ada sampai sekarang. Orang tua kita masih sangat berpegang teguh untuk mempertahankan pesan To toa. To toa mengatakan demikian, salah satu alasannya karena adat uang naik tersebut hanya orang-orang yang sekampung saja yang mengerti, dan tentunya akan memaklumi dengan seberapa pun harga yang akan diberikan. Bayangkan saja jika ukhty dilamar oleh seorang lelaki yang sangat asing dengan istilah ‘uang naik’., tentunya lelaki tersebut akan kaget atau terdiam tapi kaget. Hoho, gimana nih? Jadi ga ya?

Saya secara pribadi menyarankan kepada para wanita yang terjerat dengan ‘uang naik’ untuk berkonspirasi meninggalkan adat yang satu ini. Tapi, dengan tetap menjunjung tinggi adab dan akhlak yang baik dalam bersikap. Gimana teman? Ok deh.

Mohon maaf sebelum dan sesudahnya bagi teman-teman yang kurang berkenan.

Sumber:

–        Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah oleh ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit: Pustaka At-Taqwa.

–        Dari otak penulis yang terangkai dari kata-kata menjadi sebuah kalimat curahan hati.

9 responses »

  1. naufal anasy mengatakan:

    assalam
    wah benar nih kak ani
    saya sendiri sering minmbang2 buat nikah dini karena hal ini bingung nyari duit dimana [Naufal tersenyum]
    hahah kak ini saya mau post di FB ya [Naufal tersenyum lagi]
    heheh minta izin dulu
    jazakillah

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Wa’alaykumussalam warahmatullah
      Jangan lupa kirim undangan buat saya nah kalo Naufal nikah (suatu saat nnt). Hihi…
      Boleh…. post mi saja.
      Jazakallahu khairan.

      Suka

  2. hik_mah mengatakan:

    hidup uang panaik..*loh
    hehe mendukung gerakan anti uang panaik maksudnyah
    semoga tidak pake uang panaik nantinya.. *loh lagi [Ima tertawa menggelitik seperti mrgreen]

    Suka

  3. abu abdillah mengatakan:

    memang lebih banyak lamaran itu gagal karna uang panaina ( makassar dikit yo ).

    contoh misalnya waktu ade mau ngelamar akhwat berapa dia minta ??? harus di atas 20 juta . ana bilang kita mau dapat uang dari mana de ???

    Suka

    • Ummu Dzulqarnain mengatakan:

      Yah… itu memang sudah tradisi to mangkasara. Makanya mulai sekarang kita terapkan ke diri kita dan tentunya ke generasi kita nantinya untuk meninggalkan tradisi ini.

      Suka

  4. abu abdillah mengatakan:

    betul um …

    Suka

  5. Iffah mengatakan:

    Ai…
    Umm, kalau qt2 suatu saat nanti pux anak jgnmi minta uang panai bxk2 bikn hbs2 uangji, jgn sampai hbs walimah lagsg ada tagihan htn dr rentenir. Hohoho

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s