images

Kita sebagai seorang mukmin dan mukminah diwajibkan untuk thuma’ninah (tenang dan tidak tergesa-gesa) di dalam shalat, karena thuma’ninah termasuk rukun shalat berdasarkan riwayat yang terdapat di dalam Ash Shahihain, bahwa Beliau shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan orang yang tidak thuma’ninah di dalam shalatnya untuk mengulangi shalatnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al Mu’minun:1-2).

Jika kita melakukan gerakan sia-sia terhadap pakaian, jenggot, atau lainnya, hal tersebut hukummnya makruh. Adapun melakukan gerakan yang berturut-turut, maka itu hukumnya haram menurut syariat, dan itu membatalkan shalat kita. Tapi jika hanya sedikit dan dalam ukuran wajar, atau banyak tapi tidak berturut-turut, maka shalatnya tidak batal. Namun demikian, kita disyari’atkan untuk menjaga kekhusyu’an dan meninggalkan gerakan sia-sia, baik sedikit maupun banyak, hal ini sebagai usaha untuk mencapai kesempurnaan shalat.

Pendapat yang membatasi dengan tiga kali gerakan adalah pendapat yang lemah karena tidak ada dasarnya. Maka yang dijadikan landasan adalah gerakan sia-sia yang banyak –dalam keyakinan orang yang shalat itu sendiri-.

Jika kita berkeyakinan bahwa gerakan yang kita lakukan saat sholat banyak yang sia-sia dan berturut-turut, maka hendaklah kita mengulanginya dan bertaubat dari perbuatan tersebut.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah menasehatkan agar setiap muslim dan muslimah, hendaknya mereka memelihara pelaksanaan shalat disertai kekhusyu’an di dalamnya, serta meninggalkan gerakan yang sia-sia dalam pelaksanaannya walaupun sedikit, karena agungnya perkara shalat dan karena shalat itu merupakan tiang agama Islam serta rukun Islam terbesar setelah syahadatain. Lagipula, pada hari kiamat nanti, yang pertama kali dihisab (dihitung) dari seorang hamba adalah shalatnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala menunjuki kaum muslimin kepada jalan yang diridhai-Nya.

Sumber:

  1. Fatawa Muhimah Tata’allaqu Bish Shalah.
  2. Kitab Ad-Da’wah, hal 86-87, Syaikh Ibnu Baz
  3. Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq

NB: Dengan sedikit perubahan oleh pengedit.

One response »

  1. Iroel mengatakan:

    wah, mantap ka,,,sejak SD kita diajarinya seperti itu. Kitanya ikut2 saja, karena tak berilmu yang benar.

    Barakallahu fiik

    ditunggu kunjungan baliknya…=)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s