Wajar jika batita memiliki rasa takut. Bentuknya juga macam-macam. Yang jelas, bila ia tak dibantu mengatasi ketakutannya, bisa mengalami fobia.

Ketakutan, kata dr. Ika Widyawati, SpKJ dari Bagian Psikiatri FKUI- RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya sekaligus memberi pengalaman baru. Pada sejumlah batita, rasa takutnya masih sebatas pada hal-hal spesifik seperti takut pada anjing, gelap, atau bertemu orang asing.

 

 

Yang kerap terjadi, jelas psikiater ini, ketakutan anak justru muncul karena “ditularkan” orang tuanya. Karena takut pada sesuatu atau kondisi tertentu, “Tanpa sadar orang tua akan melarang anak dengan cara menakut-nakutinya.” Misalnya, “Awas ada kucing, nanti kamu dicakar!” Akibatnya, anak merasa terancam alias tidak aman setiap kali melihat kucing. Padahal, umumnya kucing hanya akan marah dan mencakar jika diganggu.

Bentuk ekspresi ketakutan itu sendiri bisa macam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tak mau lepas dari orang tuanya. Untungnya, seperti dijelaskan Ika, rasa takut ini akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. “Saat anak merasa aman dengan dirinya sendiri maupun lingkungannya, hilanglah rasa takut tadi. Tentu saja perlu dukungan orang tua.”

 Yang jadi masalah adalah bila rasa takut mengendap dan tak teratasi sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari anak. “Bahkan bisa mengarah jadi ketakutan yang bersifat patologis. Malah bisa fobia alias ketakutan berlebih karena pernah mengalami kejadian tertentu.” Misalnya, gara-gara takut tikus, tiap kali melihat hewan itu, ia akan menjerit ketakutan. “Tapi umumnya jarang muncul pada anak batita, kok,” jelas Ika.

Berikut 9 jenis rasa takut yang kerap dialami batita dan tips mengatasi yang diberikan Ika.

1. TAKUT BERPISAH (SEPARATION ANXIETY)

Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang dekat dengan anak.

Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru akan jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi/overprotektif atau hobi mengatur segala hal, hingga tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.

Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya. Bahkan si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot, kan? Belum lagi ia jadi susah makan dan sulit tidur jika bukan dengan ibunya.

Cara Mengatasi:

Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi/bekerja. Begitu juga penjelasan tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti alias belum tahu persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal, “Nanti, waktu kamu makan sore, Ibu sudah pulang.” Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa takut anak. Ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang

2. TAKUT MASUK “SEKOLAH”

Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak bisa gampang beradaptasi. Dari pihak orang tua, tidak sedikit pula yang justru tak rela melepas anaknya “sekolah” karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau didorong temannya.

Cara Mengatasi:

Orang tua tetap perlu mengantar anak ke “sekolah” karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.

3. TAKUT PADA ORANG ASING

Di usia-usia awal, anak memang mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti/mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.

Cara Mengatasi:

Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya.

Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu. “Awas, jangan deket-deket sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, lo!” Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk berhati-hati/bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.

4. TAKUT PADA DOKTER

Mungkin pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi takut pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orang tua rajin “mengancam” setiap kali anak dianggap nakal. “Nanti disuntik Bu Dokter, lo, kalau makannya enggak habis!” atau “Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!”

Cara Mengatasi:

Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara berkala ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orang tua atau kakak/adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memperoleh infomasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.

5. TAKUT HANTU

“Hi, di situ ada hantunya. Ayo, jangan main di situ!” Gara-gara sering diancam dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali tentang hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena ia menonton film horor di televisi.

Cara Mengatasi:

Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seyogyanya jangan pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingannya. Bisa pula dengan membelikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau penyihir yang baik hati.

6. TAKUT GELAP

Biasanya juga gara-gara orang tua. “Mama takut, ah. Lihat, deh, gelap, kan?” Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.

Cara Mengatasi:

Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.

7. TAKUT BERENANG

Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang hingga hidungnya banyak kemasukan air.

Cara Mengatasi:

Lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau melecehkan rasa takutnya. Semisal, “Payah, ah! Berenang, kok, takut!”

 8. TAKUT SERANGGA

Tak sedikit anak yang takut pada jangkrik, kecoa atau serangga terbang lainnya. Sebetulnya ini wajar, hingga orang tua jangan tambah menakut-nakutinya, “Awas, nanti ada kecoa, lo.” Hendaknya justru bisa memahami karena anak usia ini mungkin saja menemukan banyak hal yang dapat membuatnya takut.

Cara Mengatasi:

Boleh saja orang tua memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak. Tak perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua sebatas memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman. Boleh saja katakan, “Ayah tahu kamu takut jangkrik.” Cukup segitu dan jangan paksa anak berada terus-menerus dalam pembicaraan mengenai rasa takutnya.

Jangan pula memaksa anak bersikap sok berani menghadapi ketakutannya. “Belum saatnya mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan serangga yang ditakutinya. Ini hanya akan membuat anak semakin takut.” Bila dipaksakan terus, anak malah bisa fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan sendirinya dan biasanya ini terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang takut kala ada serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusirnya bersama

9. TAKUT ANJING

Wajar anak batita takut anjing mengingat penampilan binatang ini memang terkesan galak dengan gonggongan dan tampang yang garang. Belum lagi kebiasaannya suka melompat, menjilat atau malah mengejar. Tugas orang tualah untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.

Cara Mengatasi:

Tak harus memaksa anak memelihara anjing atau mendorong anak menghadapi rasa takutnya dengan terus-menerus memberi ‘ceramah’, semisal “Ngapain, sih, takut sama anjing. Anjingnya, kan, baik.” Menihilkan ketakutan anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang jadi fobia yang sulit diatasi.

Bila anak memang takut dan ketika berjalan bertemu anjing, pegangi tangannya untuk meyakinkannya ia bisa aman melewati binatang yang ditakutinya bersama orang tuanya. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman dari temperamen binatang yang relatif sulit diduga. Bisa juga dengan menunjukkan keakraban antara anjing sebagai hewan peliharaan dengan majikannya lewat cerita/dongeng. Atau kenalkan pada anjing tetangga dan tak ada salahnya meminta si pemilik memperlihatkan bagaimana menjalin keakraban dengan anjingnya tanpa harus merasa takut.

 

Sumber : http://www.balita-anda.com/ dalam 9 Rasa Takut dan Cara Mengatasinya

21 responses »

  1. khanifa mengatakan:

    hmmm… tapi cara penanggulangannya kadang-kadang ga baik juga ya?

    • Ummu Dzilqarnain mengatakan:

      Secara umum seperti itu dek… tinggal kita mengaplikasikannya sesuai yang kita mau sebagai orangtua bagi anak-anak kita nantinya *Senyum.

  2. aries mengatakan:

    kebetulan ini bukan anak saya, saya punya keponakan, dia anak pintar, memang baru beberapa bulan sekolah, awal-awal juga cukup diantar saja dan tidak pernah ditungguin, tapi 2 minggu ini selalu minta ditungguin. Ini terjadi karena pernah ada pegalaman yang tidak enak enak k dia. Pengalaman pertama, si ayah lupa jemput dan lupa pesan ke orang rumah untuk jemput karena sedang repot, akhirnya si anak naik becak sendiri, padahal jaraknya 4 km dari sekolah ke rumah. Untungnya tukang becaknya baik, sebenarnya si anak agak takut juga naik becak sendiri, tapi dia tidak punya pilihan. Pengalaman kedua, dia dipikul oleh temen lelaki di kelasnya, padahal sudah didamaikan guru dan si anak lelaki ini pun sudah berjanji tidak akan memukul lagi. Dari setelah pengalaman kedua itu kponakan saya ini selalu minta ditungguin setiap hari, padahal kedua orang tuanya kan kerja, sementara orang yang ada dirumah adalah nenek yang juga menjaga anak yang kedua, jadi tidak mungkin bisa membantu. Yang saya mau cara apa yng paling Ok untuk mengatasi ketakutan ini. Terima kasih. Salam.

    • Ani mengatakan:

      Menurut saya, ini berkaitan dengan masalah kebiasaan, jika anak sudah terbiasa dengan situasi yang dialaminya, itu bukan hal baru atau menakutkan lagi baginya. Sebagai orangtua, usahakan jangan terlihat terlalu melindungi. Sebagai orangtua kita memang akan selalu ingin melindungi anak kita, tapi jangan terlalu tunjukan, ajarkan dia untuk mandiri. Tanyakan hal-hal yang membuatnya takut di sekolah, dan jelaskan atau motivasi dia agar anak tidak takut lagi di sekolah. Dan saya ulangi lagi, ajarkan dia untuk mandiri dan jangan terlalu terlihat melindunginya. Semoga membantu ya.

  3. dhea mengatakan:

    anakku usianya 10 bln,..tp bener2 ga mau sama orang2 yg didekatny,kecuali ayah dan bundanya.sama nenek dan saudara2 yg lain ga mau digendong,padahal saya bundanya tetap berada di dekatnya tp tetap anakku menangis ingin tetap aku yg gendong dia..:(
    hh,..sampai2 saya ga bisa ngapa2in..:(

    • Ani mengatakan:

      Saya rasa pertanyaan mbak sudah ada jawabannya di atas (sudah diterangkan oleh dr. Ika Widyawati, SpKJ.

      TAKUT PADA ORANG ASING
      Di usia-usia awal, anak memang mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti/mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.

      Cara Mengatasi:
      Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya.
      Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu. “Awas, jangan deket-deket sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, lo!” Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk berhati-hati/bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.

      Saran saya : cobalah biarkan anak mbak digendong oleh siapa saja (keluarga mbak yang lain, selain mbak dan ayahnya). Jika dia menangis, tunjukkan wajah atau ekspresi bahwa itu tidak mengapa sambil berkata, “Tidak apa-apa,” Walau anak mbak masih tetap menangis biarkan saja, cobalah hilangkan rasa khawatiran mbak ketika dia menangis karena digendong, toh dia ga apa-apa khan digendong sama yan lain.

      Semoga membantu ya mbak.

  4. aoi mengatakan:

    bagaimana ya untuk mengatasi ketakutan bertemu orang?…. padahal sudah dewasa (22 tahun)???…

  5. nelly mengatakan:

    anaku berusia 2 tahun 5 bln,dia sangat takut kalau melihat kodok walaupun itu cuma kodok mainan…pernah suatu ketika dia melihat kodok mainan dia langsung gemetar,jantung nya berdetak kencang sekali,dan dia berteriak histeris dan susah tidur…gimana cara amengatasinya,saya minta tolong……

  6. Maya mengatakan:

    Anak sy terglng anak yg pintar….,setiap krng jelas tentang pljrannya dia selalu nanya sm gurunya tp sampai sekarang dia belum berani sklh sendiri setia ditanya alasanya mengapa kok tkt sklh sendiri diam aja, jadi saya bingung bagaimana mencari solusinya agar dia mau sklh sendiri,jd setiap hari saya selalu berdiri didpn pintu kelas.skrng sikecil dah kls 1?

  7. lisa mengatakan:

    Anak saya umur 2thn. Klo ketemu org takut.sampe tutup mata sembunyi muka. Pdhal saya sdh jelasin”ayoo kenalan sm temennya mami” tp tetep aja takut. Apa yg harus sy lakukan spy anakku tdk takut berkenalan sm org?

  8. lie mengatakan:

    anak saya berusia 6 tahun…. dan srekarang duduk di kelas1.. anaknya tergolong pintar dan cepat bersosialisasi.. pada awal masuk sekolah smester 1 anaknya sangat mandiri tidak pernah nangis saat di tinggal…. tapi setelah liburan semester 1 n baru sembuh dari sakit…. anak saya jd ga mau ditinggal dan nangis kalau di tinggal… tapi lucu nya setelah di bujuk dia mau…. n kegiatan skul juga di lakukan seperti biasa… yang aneh nya setiap di anter sama saya (mamanya) pasti di tempelin terus dan tidak mau ditinggal… sudah 1 bulan ini anak saya masih seperti itu….. bagaimana cara mengatasinya

  9. bunda athia mengatakan:

    putri sy sdh 1,5 thn. tp terus nemepel dg sy ato pengasuhnya. gak mau diajak org dewasa lainnya. tp kl dg anak2 lain dia mau diajak main. tp tetap sy hrs ada dalam pandangan matanya. sedikit sy tak terlihat dia akan menangis. bgm mengatasinya ya???

  10. Ummu Zahrah mengatakan:

    Semuanya kembali ke faktor kebiasaan mbak. Segalanya bisa karena biasa. Segala perubahan itu tidak ada yang mudah, butuh adaptasi dan dibiasakan. Saya rasa pertanyaan mbak sudah ada jawabannya di atas (sudah diterangkan oleh dr. Ika Widyawati, SpKJ).

  11. yudha mengatakan:

    saya mengangkat anak laki-laki umur 20 bulan, sekarang udah nyampe 3 bulan di rumah, pertama dia ok-ok saja dan mau digendong/bergaul dengan orang-orang, masalahnya sekarang dia tidak mau lepas dari saya (bapaknya), bahkan kalo pergi ke kantor dia sampe histeris, bangun pagi dia nangis cari ayahnya, padahal ibunya ada di situ, saya agak bingung juga nih, padahal sehari-hari dia bersama ibunya (tidak kerja), barangkali bisa disharing….trims

    • Ummu Zahrah mengatakan:

      Itu wajar pada usia balita karena measa takut kehilangan seseorang yang dia sayangi. Bapak harus tetap tenang dan sampaikan bahwa Anda hanya pergi sebentar, nanti sore pulang. Dia hanya perlu adaptasi.

  12. Ike mengatakan:

    Anak saya sudah berumur 23 tahun, perempuan tapi masih takut tidur sendiri. Bagaimana cara mengatasinya y?

    • Ummu Zahrah mengatakan:

      Semakin dewasa, anak akan semakin sulit untuk menghilangkan kekhawatirannya. Semakin kita percaya bahwa ada Sang Maha Pencipta maka akan semakin kecil rasa ketakutan kita kepada yang lainnya. Semoga membantu bu.

  13. site mengatakan:

    You’ve made some really good points there. I looked on the net to find out more about the issue and found most individuals will go along with your views on this site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s