mkn

Teman-teman, tentunnya kalian sudah sering mendengar istilah imsak khan?

Imsak maksudnya adalah tidak makan dan minum pada waktu sahur karena waktu sudah mendekati subuh atau waktu sahur sudah dianggap habis.

Pada zaman Ibnu Hajar al-Atsqalani, ada bentuk lain dari imsak, yaitu memadamkan lampu sebagai pertanda haramnya meneruskan makan dan minum bagi siapa yang ingin berpuasa pada keesokan harinya.

.

Orang-orang menetapkan imsak dengan maksud untuk berhati-hati dalam beribadah. Hal tersebut dilakukan karena khawatir jika sahur dilaksanakan akan terlanggar oleh adzan subuh. Bahkan karena sikap kehati-hatian tersebut sehingga merupakan hal yang biasa untuk mempercepat waktu sahur dan mengakhirkan waktu berbuka puasa, dengan alasan supaya lebih mantap lagi (katanya sich…).

.

Teman-teman, ternyata…. Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencontohkannya loh, begitu pula dengan para sahabat Rasulullah. Jadi, bisa disimpulkan bahwa imsak itu merupakan perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama.

.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Artinya : Celakalah orang yang mengada-adakan! Celakalah orang yang mengada-adakan ! Celakalah orang yang mengada-adakan !” [Diriwayatkan oleh Muslim : Kitab Ilmu/Bab Celakanya orang-orang yang mengada-adakan (2670)]

.

Adapun kebiasaan imsak ini bermula pada zaman al-Hazh Ibnu Hajar berkaitan dengan pembatasan waktu sahur sebelum subuh, dengan cara memadamkan lampu sebagai tanda waktu sahur telah habis. Saat ini, perkara baru tersebut muncul pula dalam bentuk imsak.

.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassa (seorang tokoh ulama Najd, Saudi Arabia, penyusun kitab Taisir Al-Allam Syarh Umdatul Ahkam) mengatakan dengan ini kita dapat mengetahui bahwa dua waktu yang dibuat orang, yaitu waktu imsak untuk mulai tidak makan/minum di waktu sahur dan waktu terbit fajar adalah perkara baru dalam agama, sama sekali tidak ada petunjuknya dari Allah. Itu hanya waswasah (bisikan) setan untuk mengotori kemurnian dienul Islam. Imsak (menahan makan dan minum) yang sebenarnya menurut sunnah Nabi Muhammad adalah pada saat terbit fajar itu sendiri.

.

Bahkan, ketika kita belum menghabiskan sisa makanan dan minuman kita, padahal adzan telah berkumandang, kita diberi keringanan untuk menyelesaikannya.

.

Rasulullah bersabda, “Apabila seorang di antara kamu mendengar panggilan (adzan subuh) sedangkan tempat/nampan makanan masih ada di tangannya, maka hendaknya ia tidak meletakkan tempat makanan itu sebelum ia menghabiskan keperluan (sisa makanan) dari tempat makanan tersebut.

[Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim. Hakim menshahihkan hadits ini dan begitu pula adz-Dzahabi]

.

Ibnu Hazm juga mengeluarkan hadits tersebut dengan disertai tambahan sebagai berikut, “Ammar (yakni Ammar bin Abi Ammar, perawi hadits yang meriwayatkannya dari Abu Hurairah) mengatakan,

‘Mereka (para sahabat) diizinkan untuk menyelesaikan sisa-sisa makanan bila fajar terbit. Hammad (yakni Hammad bin Salamah) juga mengatakan dari Hisyam bin ‘Urwah bahwa ia (Hisyam bin ‘Urwah) mengatakan, Ayahku berfatwa demikian (menyelesaikan sisa makanan yang masih ada di tempat makanan jika fajar telah terbit).

[Sanad riwayat di atas shahih sesuai persyaratan Muslim. Disamping itu, riwayat tersebut masih memiliki syahid-syahid (saksi-saksi riwayat penguat lain) yang telah Syaikh Al-Albani Rahimakullah sebutkan pada At-Ta'liqat Al-Jiyad dan juga dalam Silsilah Shahihah no. 1394].

.

Dengan demikian, berdasarkan riwayat tersebut, maka barangsiapa yang sedang makan sahur, kemudian diterjang terbitnya fajar, padahal di tangannya masih ada sisa makanan dan minuman, maka dia boleh menghabiskan sisa makanan atau minuman itu. Hal ini berdasarkan firman Allah, “Dan makanlah serta minumlah sebelum jelas benar bagimu, benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah:187).

.

Ayat di atas serta hadits-hadits yang semakna dengan ayat tersebut, tidak bertentangan dengan riwayat di atas. Dan riwayat di atas tidak pula bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan para sahabat). Bahkan sejumlah sahabat dan para tokoh ulama berpendapat sesuai dengan pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari hadits tersebut, yaitu bahwa sahur boleh dilakukan hingga fajar terlihat jelas, hingga cahaya keputih-putihan merata di jalan-jalan. (Lihat Fathul Bari IV/109-110)

.

.

[Diambil dari http://www.vbaitullah.or.id, judul Waktu Imsak Kebiasaan Ummat Yang Tanpa Tuntunan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah], dengan sedikit tambahan dan perubahan dari editor.

.

About these ads

2 responses »

  1. Denbaguse mengatakan:

    Imsak itu adalah peringatan bahwa waktu sudah menjelang subuh, tetap diperbolehkan makan/minum, karena tujuan imsak itu sendiri adalah ikhtiyat/agar kita lebih hati-hati.. imsak termasuk bid’ah hasanah, seuatu yang baik dengan tujuan yang baik pula…
    usahakan tidak gampang menyatakn bidl’ah, karena bidl’ah mempunyai bentuk yang bermacam-macam…

    • Ummu Dzilqarnain mengatakan:

      Berikut beberapa dalil sam’iy (Al-Kitab dan AS-Sunnah) dan dalil akal yang menunjukkan akan jelek, tercela dan tertolaknya semua bentuk bid’ah :

      1. Hadits Jabir riwayat Muslim :
      “Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.

      2. Hadits ‘Irbadh bin Sariyah :
      “Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i)

      Berkata Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam : “Maka sabda beliau “semua bid’ah adalah kesesatan”, termasuk dari jawami’ul kalim yang tidak ada sesuatupun (bid’ah) yang terkecualikan darinya, dan hadits ini merupakan pokok yang sangat agung dalam agama”.

      Dan berkata Al-Imam Asy-Syathiby rahimahullah dalam Al-I’tishom (1/187), “Sesungguhnya dalil-dalil –bersamaan dengan banyaknya jumlahnya- datang secara mutlak dan umum, tidak ada sedikitpun perkecualian padanya selama-lamanya, dan tidaklah datang dalam dalil-dalil tersebut satu lafadzpun yang mengharuskan adanya di antara bid’ah-bid’ah itu yang merupakan petunjuk (hasanah), dan tidak ada dalam dalil-dalil tersebut penyebutan “semua bid’ah adalah kesesatan kecuali bid’ah ini, bid’ah ini, …”, dan tidak ada sedikitpun dari dalil-dalil tersebut yang menunjukan akan makna-makna ini (pengecualian)”.

      3. Hadits ‘A`isyah radhiallahu ‘anha:
      “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

      Berkata Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Author (2/69) : “Hadits ini termasuk dari kaidah-kaidah agama karena masuk didalamnya hukum-hukum tanpa ada pengecualian. Betapa jelas dan betapa menunjukkan akan batilnya pendapat sebagian fuqoha` (para ahli fiqhi) yang membagi bid’ah menjadi beberapa jenis dan mengkhususkan tertolaknya bid’ah hanya pada sebagian bentuknya tanpa ada dalil naql (Al-Kitab dan As-Sunnah) yang mengkhususkannya dan tidak pula dalil akal”.

      4. Ijma’ para ulama Salaf dari kalangan Shahabat, tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik akan tercela dan jeleknya semua bid’ah serta wajibnya memperingatkan kaum muslimin darinya dan dari para pelakunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s